
Pemalang, CMI News – Sebuah kisah pilu datang dari SMUN 3 Pemalang, di mana seorang siswa terpaksa memutuskan mengakhiri pendidikannya karena tidak mampu menanggung biaya seragam sekolah yang mencapai Rp760 ribu.
Keputusan berat ini diambil setelah berbagai upaya dilakukan, namun terbentur oleh keterbatasan ekonomi keluarga.
Siswa yang enggan disebutkan namanya ini berasal dari keluarga kurang mampu. Orang tuanya, yang bekerja sebagai buruh tani, harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika dihadapkan dengan biaya seragam yang begitu tinggi, mereka merasa tak berdaya.
Hal tersebut mendapat keprihatinan dari berbagai pihak, salah satunya, Drs. Purwoko seorang pensiunan Guru SMAN 1 Pemalang sekaligus ketua KWRI(komite wartawan Reformasi Indonesia).
“Seharusnya sekolah dapat menjembatani agar anak tidak putus sekolah, bukan di sodori surat pengunduran diri,kalau memang ada jual seragam yang diarah kan ke suatu toko itu melanggar aturan” Ucap Purwoko
Menurut Solihin orang tua siswa berinisial HJ dirinya tidak mampu membelikan Seragam sebesar Rp 760rb di karenakan sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Sementara diri nya sedang berusaha mencari pinjaman ke teman teman belum dapat hasil, namun sayang nya pihak sekolah mendatangi di tempat kerja istri saya disodori surat pengunduran diri tanpa konfirmasi dengan saya.
“Pihak sekolah datang ketempat kerja istri saya kemudian di sodori surat pengunduran diri yang di tanda tangani istri saya tanpa kinfirmasi dulu sama saya” Tuturnya
Sementara pihak sekolah melalui Wakil kepala sekolah bidang kesiswaankesiswaan Nur Chafidah mengatakan bahwa sekolah tidak menjual seragam bahkan sekolah sudah menyiapkan seragam untuk HJ di meja nya
“Kami sudah siapkan seragam untuk yang bersangkutan namun anak nya ga pernah berangkat” Katanya
Kepala sekolah yang awal nya enggan menemui Agusriyanto selaku ketua Lembaga Sosial Control Independen dan team media akhirnya menemui dan meminta untuk di konfrontir dengan orang tua HJ.








