Para tokoh tersebut satu per satu mengambil batu, menempatkannya di lokasi pondasi pertama, disaksikan langsung oleh jamaah dan masyarakat. Doa dan harapan terus terucap dari lisan warga yang hadir — semoga bangunan ini menjadi sumber keberkahan, tempat ibadah yang makmur, dan wadah penggemblengan ilmu agama bagi generasi muda Kramat.
Sementara prosesi berlangsung, pembawa acara menyampaikan narasi penuh makna:
> “Semoga setiap batu yang diletakkan menjadi pondasi kokoh bagi berdirinya lembaga pendidikan, ibadah, dan pengabdian umat yang membawa manfaat dan keberkahan dunia akhirat.”
Setelah prosesi selesai, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Lebe Desa Kramat, Nur Taufik. Seluruh jamaah menundukkan kepala dengan khusyuk, memohon kepada Allah SWT agar proses pembangunan berjalan lancar, dijauhkan dari halangan, dan memberikan pahala jariyah yang tak putus kepada Almarhumah Hajjah Sarni.
Sebagai penutup, pembawa acara mengajak hadirin untuk membaca hamdalah bersama:
“Alhamdulillahirabbil ‘alamin.”
Dalam penutupan, panitia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini mulai dari keluarga pewakaf, pengurus NU di berbagai tingkatan, pemerintah desa, hingga warga yang ikut gotong royong menyukseskan kegiatan.
Tema besar acara hari itu, “Merajut Khidmah, Komitmen Berjam’iyyah,” benar-benar terasa dalam suasana. Bukan sekadar seremoni, namun menjadi momentum penting bagi warga NU Kramat untuk mempertegas jati diri sebagai jamaah yang berkhidmah demi kemaslahatan umat.
Dari tanah wakaf Almarhumah Hajjah Sarni inilah, semangat kemandirian dan pengabdian NU akan terus tumbuh menjadi cahaya ilmu, tempat ibadah yang meneduhkan, dan rumah bagi perjuangan jamaah yang ikhlas.











