“Momentum bulan Muharram—yang dikenal sebagai Lebarannya Anak Yatim—memiliki persamaan esensi dengan gotong royong kebudayaan. Keduanya mengajarkan kita untuk merekatkan solidaritas. Memuliakan anak yatim bukanlah sekadar aksi karitatif, melainkan amanah spiritual universal yang mendasar,” ungkap Rizal dalam orasinya.
Sinergi yang terbangun malam itu mendapat apresiasi mendalam dari tokoh kebudayaan Pemalang, Nur Hersom. Ia mengaku terharu melihat kepedulian konkret tokoh nasional terhadap denyut nadi kesenian di tingkat desa.
”Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Rizal Bawazier atas dukungannya yang luar biasa. Suksesnya acara ini adalah buah dari persamaan tekad dan gotong royong seluruh warga,” ujar Nur Hersom dengan mata berkaca-kaca.
Nur menambahkan, konsistensi adalah kunci. Pergelaran ini telah menginjak tahun kedelapan. Sebuah perjalanan panjang yang sengaja dirawat demi memastikan Generasi Z dan Milenial di Pemalang tetap mengenali, mencintai, dan memiliki akar budaya mereka di tengah gempuran zaman.
Melalui momentum ini, Desa Kendalsari berhasil membuktikan sebuah persamaan prinsip kehidupan: bahwa kebudayaan akan terasa jauh lebih hidup dan bermakna ketika ia mampu memberi dampak sosial dan merangkul mereka yang membutuhkan.
Acara malam itu mungkin telah usai dan lentera padepokan telah padam, namun binar kebahagiaan di wajah anak-anak yatim menjadi tanda bahwa kolaborasi yang dilandasi ketulusan akan selalu meninggalkan jejak kehangatan yang abadi di hati masyarakat Pemalang.











