BATANG – Ribuan jemaah dari Kabupaten Batang, Pekalongan, hingga berbagai daerah di Jawa Tengah memadati puncak peringatan Haul Bawang yang digelar di Desa Bawang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Minggu (5/7/2026).

Tradisi tahunan yang bernuansa khidmat ini diselenggarakan untuk mengenang jasa dakwah dan perjuangan As Syahid Al Habib Idrus bin Husein Shahab serta para masyayikh Bawang.

Membeludaknya arus kedatangan jemaah lintas daerah ini mendapat perhatian khusus dari Anggota DPR RI, Rizal Bawazier, yang turut hadir di tengah-tengah masyarakat. Melihat potensi spiritual dan massa yang begitu besar, legislator pusat ini mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang untuk segera melakukan langkah nyata berupa revitalisasi dan penataan kawasan makam agar lebih representatif.

Bagi masyarakat Batang, Haul Bawang bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus merawat ingatan kolektif terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Rizal Bawazier yang mengaku sudah empat kali konsisten menghadiri haul ini menyatakan, figur Habib Idrus merupakan representasi nyata dari konsep “Ulama Pejuang”. Berdasarkan catatan sejarah, selain menyebarkan syiar Islam, beliau gugur syahid setelah ditembak oleh pasukan penjajah Belanda.

“Bagi saya, Haul Bawang tidak sekadar menghormati ulama, tapi juga mengenang sejarah perjuangan ulama pada masa penjajahan. Banyak yang bisa kita pelajari dari sejarah dakwah Islam hingga peran ulama di masa kolonial. Semoga Haul ini terus ada dan membawa manfaat,” ujar Rizal Bawazier di sela-sela acara.

Ia menambahkan, antusiasme luar biasa dari jemaah yang rela menempuh perjalanan jauh menunjukkan betapa besarnya kecintaan dan penghormatan masyarakat terhadap sosok Habib Idrus hingga saat ini.

Mengingat volume jemaah yang terus melonjak tajam setiap tahunnya, Rizal menilai fasilitas pendukung di sekitar kawasan makam sudah saatnya ditingkatkan. Kelayakan infrastruktur menjadi kunci utama jika Pemkab Batang ingin serius menyelamatkan aset sejarah ini sekaligus mengembangkannya menjadi destinasi wisata religi yang mapan.

Sinergi penataan fisik kawasan oleh pemerintah daerah diyakini tidak hanya memberikan kenyamanan bagi para peziarah, tetapi juga akan memberikan multiplier effect (dampak instan) bagi pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya bagi para pelaku UMKM di Kecamatan Bawang.

“Kalau ingin menjadi wisata religi, yang perlu diperhatikan adalah kawasan makamnya. Pemerintah daerah bisa melakukan revitalisasi sehingga layak menjadi destinasi wisata religi,” tegas Rizal.

Melalui dorongan ini, diharapkan Pemkab Batang dapat segera menyusun masterplan penataan yang matang, sehingga nilai-nilai keteladanan, patriotisme, dan spiritualitas dari para ulama Bawang dapat terus terjaga dan diwariskan dengan baik kepada generasi penerus.