CMI News – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia optimistis Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar atau diesel, mulai tahun depan. Keyakinan itu disampaikan langsung di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto.

Salah satu faktor utama yang membuat Indonesia bisa lepas dari impor solar adalah beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur. Kilang yang dioperasikan PT Kilang Pertamina Balikpapan tersebut akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 100.000 barel per hari (bph), sehingga total kapasitas mencapai 360.000 bph.

“Tahun depan dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, menambah 100 ribu lebih barrels per day, Solar kita bisa umumkan, sekalipun kita belum dorong untuk B50, itu kita sudah surplus untuk Solar mulai tahun depan Indonesia tidak lagi impor Solar karena antara konsumsi dan produksi kita cukup,” ujar Bahlil.

Meski demikian, Bahlil menyebut program pencampuran biodiesel B50 masih dalam tahap perencanaan. Namun, tanpa B50 pun, Indonesia disebut sudah berada dalam posisi surplus solar.

“Kita lagi pikir, kalau kita mau dorong ke B50, maka jumlah Solar yang surplus 4 juta ton itu kita akan konversi untuk membuat produk avtur, sehingga 2026 Solar kita clear dan avtur bisa produksi dalam negeri,” jelasnya.

Di sisi lain, impor BBM jenis bensin masih akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan etanol sebagai campuran bensin mulai 2027.

“Bensin kita masih impor, dan karena kami sarankan program etanol itu bisa kita jalankan dan produksi 2027,” kata Bahlil.

Data Impor Solar RI

Berdasarkan Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, Indonesia tercatat masih mengimpor solar dalam satu dekade terakhir. Namun, tren impor mulai menurun seiring penerapan biodiesel.

Berikut data impor solar Indonesia sejak 2019 hingga 2024:

2019: 3,87 juta kl

2020: 3,18 juta kl

2021: 3,19 juta kl

2022: 5,27 juta kl

2023: 5,14 juta kl

2024: 4,24 juta kl

Penurunan impor pada 2024 dipengaruhi oleh penerapan B35 sejak pertengahan 2023, yang kemudian meningkat menjadi B40 pada 2025. Program ini diyakini menjadi kunci menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.