
BANGKOK – Kegagalan Timnas Thailand meraih medali emas SEA Games 2025 menyisakan luka mendalam yang berbuntut panjang. Bukan hanya soal teknis di lapangan, kekalahan menyakitkan dari Vietnam di partai final kini memicu “perang saudara” di antara para legenda sepak bola Gajah Perang.
Final yang berlangsung pada Kamis (18/12/2025) sejatinya sempat berada dalam kendali Thailand. Skuad muda Gajah Perang tampil dominan dan unggul meyakinkan 2-0 di babak pertama. Namun, keajaiban taktik pelatih Vietnam, Kim Sang-sik, mengubah segalanya. Vietnam bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 3-2 melalui babak perpanjangan waktu 120 menit.
Kekalahan ini terasa tragis karena emas yang sudah di depan mata sirna begitu saja. Suasana duka di ruang ganti Thailand rupanya justru disambut dengan kritik pedas dari salah satu mantan strikernya, Sarayut Chaikamdee.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, Sarayut mengunggah status di media sosial yang mengecam kinerja tim dan staf pelatih.
“Izinkan saya berbicara sebagai seorang pelatih, seperti banyak pelatih lain yang belum memiliki kesempatan ini. Benar-benar mengerikan!” tulis sosok yang pernah merumput di Liga Vietnam tersebut.
Meski tidak menyebut nama secara spesifik, publik meyakini bahwa kata “mengerikan” tersebut ditujukan langsung kepada staf kepelatihan Timnas Thailand yang dianggap gagal mempertahankan keunggulan.

Pernyataan Sarayut ternyata menjadi bumerang. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru diserang balik oleh deretan mantan pemain Timnas Thailand lainnya yang merasa komentar tersebut tidak etis.
Chukiat Noosarung, mantan pemain yang juga pernah berkarier di Hoang Anh Gia Lai, memberikan teguran paling keras.
“Anda pikir Anda yang terbaik, ya? Jangan sok pintar,” ujar Chukiat. “Anda bahkan belum bermain 50 pertandingan untuk tim nasional, jadi jangan berlebihan. Masih saja membual tentang betapa berbakatnya diri Anda?”
Tak ketinggalan, Issawa Singthong meminta Sarayut untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan bahwa reputasi yang dimiliki Sarayut saat ini tidak lepas dari jasa para senior dan rekan setim di tim nasional.
Di tengah tensi tinggi tersebut, Teeratep Winothai mencoba mendinginkan suasana. Legenda yang pernah menimba ilmu di Inggris ini mengajak semua pihak untuk saling menyemangati daripada saling menghina.
“Analisis dan kritik itu baik, tetapi Anda tidak seharusnya mencaci maki orang lain. Saat masih bermain, Anda juga tidak suka dihina. Tunjukkan rasa hormat,” pesan Teeratep.
Senada dengan itu, Prasert Changmool mengajak publik sepak bola Thailand untuk berjiwa besar menerima kemenangan Vietnam. Menurutnya, staf pelatih sudah berusaha maksimal dan kekalahan adalah bagian dari olahraga yang harus diterima dengan lapang dada.
Hingga saat ini, Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) belum memberikan komentar resmi terkait polemik antar-legenda ini. Namun, yang pasti, kegagalan di SEA Games 2025 ini telah membuka kotak pandora mengenai tensi internal di ekosistem sepak bola Thailand.








