Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Ekonomi

Impor Minyak Mentah RI Didominasi Nigeria, Amerika Serikat Hanya Sumbang Secuil

×

Impor Minyak Mentah RI Didominasi Nigeria, Amerika Serikat Hanya Sumbang Secuil

Sebarkan artikel ini

Cikarang, CMI News — Kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini kembali diperkuat melalui penandatanganan kerangka kerja negosiasi Perjanjian Perdagangan Timbal Balik.

Salah satu poin pentingnya adalah komitmen Indonesia untuk meningkatkan impor energi dari AS, terutama LPG, minyak mentah, dan bensin, dengan nilai yang ditargetkan mencapai US$ 15 miliar.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Namun jika melihat data terkini, porsi impor minyak mentah Indonesia dari AS sejatinya masih sangat kecil.

Menurut catatan Dewan Energi Nasional (DEN), total impor minyak mentah Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$ 10,4 miliar, atau sekitar Rp 169,29 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.278 per dolar AS. Dari jumlah itu, porsi yang berasal dari Amerika Serikat hanya sekitar US$ 431 juta (sekitar Rp 7,01 triliun), atau sekitar 4% dari total keseluruhan.

Sebaliknya, negara yang menjadi pemasok terbesar minyak mentah bagi Indonesia pada tahun lalu adalah Nigeria, dengan nilai mencapai US$ 2,9 miliar atau setara 28% dari total impor. Negara Afrika Barat ini memang sejak lama menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam hal pasokan minyak jenis sweet crude, yang cocok untuk kilang dalam negeri.

Arab Saudi menyusul di posisi kedua dengan nilai ekspor ke Indonesia sebesar US$ 2,05 miliar (20%). Kemudian diikuti oleh Angola sebesar US$ 1,71 miliar (17%), Gabon dengan US$ 1,04 miliar (10%), dan Australia sebesar US$ 750 juta (7%).

Amerika Serikat sendiri berada di posisi keenam sebagai pemasok minyak mentah Indonesia, sedikit di atas kategori “negara lainnya” yang secara agregat menyumbang 14% atau sekitar US$ 1,47 miliar dari total impor.

Secara keseluruhan, data ini memperlihatkan bahwa meskipun hubungan dagang Indonesia dan AS terus membaik, dibuktikan dengan penurunan tarif produk Indonesia ke pasar AS dari sebelumnya 32% menjadi 19%, namun struktur perdagangan energi, khususnya minyak mentah, masih berat sebelah.

Bisa jadi, ke depannya, porsi impor dari AS akan meningkat seiring dengan implementasi kesepakatan baru tersebut. Tapi dalam jangka pendek, dominasi negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Angola masih akan bertahan, mengingat kecocokan kualitas minyak dan efisiensi logistik ke kilang Indonesia.









error: