Cikarang, CMI News — Harga emas global melemah signifikan pada perdagangan Rabu (23/7/2025), tertekan oleh meredanya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Tekanan ini muncul seiring perkembangan positif dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), yang hampir mencapai kesepakatan tarif sebesar 15%.
Mengutip data dari Reuters, harga emas spot turun 1,2% ke level US$ 3.387,29 per troy ounce. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Juni 2025. Kontrak berjangka emas di AS juga ditutup melemah 1,3% di angka US$ 3.397,6 per troy ounce.
Sementara emas kehilangan momentumnya, harga perak justru mencuri perhatian. Logam ini sempat melonjak ke level tertinggi sejak September 2011, sebelum terkoreksi tipis 0,1% ke posisi US$ 39,24 per troy ounce. Kenaikan ini disebut sebagai hasil kombinasi dari permintaan industri yang kuat, defisit pasokan global, serta meningkatnya minat investasi.
Sinyal Positif dari Meja Perundingan Dagang
Menurut Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas TD Securities, perkembangan terbaru dalam negosiasi perdagangan menjadi katalis penting bagi pasar. Kesepakatan yang tercapai antara AS dan Jepang, serta kemungkinan tercapainya kesepakatan serupa dengan UE, mengurangi risiko aksi balasan tarif.
โPasar melihat ini sebagai peredaan tensi dagang global, yang berdampak pada meningkatnya selera risiko. Hal ini membuat investor mulai beralih dari aset safe haven seperti emas ke instrumen yang lebih agresif,โ jelas Melek.
Dua diplomat Uni Eropa mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan AS telah memasuki tahap akhir, menyepakati tarif sebesar 15% untuk sejumlah produk UE. Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump juga mengumumkan pemangkasan tarif impor otomotif dari Jepang, yang dinilai sebagai langkah maju dalam diplomasi perdagangan.
Outlook Emas dan Ancaman Tekanan Politik terhadap The Fed
Secara historis, emas biasanya menguat di tengah ketidakpastian ekonomi dan suku bunga rendah. Namun, saat ini pelaku pasar justru memperkirakan bahwa The Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga, meskipun muncul kekhawatiran soal independensi bank sentral akibat tekanan politik.
Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter ini, harga emas justru kehilangan momentumnya, sementara perak melesat. Alexander Zumpfe, trader logam mulia dari Heraeus Metals Germany, menilai perak masih berpeluang menembus level psikologis US$ 40 per ounce.
โKondisi pasar saat ini mendukung reli perak, terutama jika pasokan fisik di pasar Asia kembali mengetat atau dolar AS melemah lebih dalam,โ ujar Zumpfe.
Logam Mulia Lain Ikut Tertekan
Di sisi lain, tekanan jual juga menjalar ke logam mulia lainnya. Harga platinum turun 2,1% menjadi US$ 1.411,63 per ounce, sementara palladium melemah 0,2% ke US$ 1.271,98 per ounce.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















