
SEMARANG – Anggota Komisi VI DPR RI, Iskandar, memberikan peringatan keras mengenai pentingnya menjaga stabilitas harga pangan nasional. Hal ini menyusul adanya potensi lonjakan permintaan masyarakat yang biasanya terjadi menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri.
Pernyataan tersebut disampaikan Iskandar dalam agenda Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi VI DPR RI di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/3/2026). Ia menekankan bahwa pengawasan harga harus menjadi prioritas utama guna menjaga daya beli masyarakat.
Berdasarkan koordinasi langsung dengan Perum Bulog dan ID Food, Iskandar memastikan bahwa ketersediaan bahan pokok, khususnya beras, dalam posisi yang aman. Saat ini, cadangan beras nasional tercatat mencapai angka 4 juta ton.
“Stok beras yang tersedia sekitar 4 juta ton dan diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga dua sampai tiga bulan ke depan,” ungkap Iskandar di hadapan awak media.
Meskipun stok melimpah, Iskandar menyoroti dinamika pasar di beberapa wilayah, terutama Jawa Tengah, yang mulai menunjukkan tren peningkatan permintaan. Ia menginstruksikan BUMN Pangan untuk tidak lengah terhadap fluktuasi harga sekecil apa pun di lapangan.

Menurutnya, kenaikan harga pangan bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan juga masalah psikologis bagi masyarakat yang sedang bersiap merayakan lebaran di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
“Kenaikan harga pangan harus diantisipasi. Secara psikologis, kenaikan harga sekecil apa pun bisa memengaruhi ketenangan masyarakat,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Komisi VI DPR RI meminta BUMN Pangan untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah (Pemda) dan seluruh pemangku kepentingan terkait. Fokus utamanya adalah memastikan, Kelancaran Distribusi: Memastikan stok dari gudang sampai ke pasar tradisional tepat waktu, Operasi Pasar: Melakukan intervensi jika ditemukan komoditas yang harganya melampaui HET (Harga Eceran Tertinggi), dan Pengawasan Rantai Pasok: Mencegah adanya penimbunan oleh oknum tidak bertanggung jawab.








