Cikarang, CMI News – Harga minyak dunia bergerak menguat secara terbatas di awal pekan ini, seiring pasar mencermati dua faktor utama: ketidakpastian dalam negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta kebijakan terbaru blok Eropa dalam memperketat sanksi terhadap Rusia.
Mengutip data Refinitiv, harga Brent kontrak September tercatat naik tipis ke US$ 69,29 per barel pada Senin pagi pukul 10.00 WIB, hanya sedikit di atas level penutupan Jumat lalu di US$ 69,28. Sementara itu, minyak WTI juga mengalami kenaikan marginal ke US$ 67,44 per barel, dari sebelumnya US$ 67,34.
Pasar Masih Gelisah Pasca Koreksi Mingguan Pertama
Kenaikan ini terjadi setelah Brent mengalami koreksi sekitar 1,5% sepanjang pekan lalu, penurunan mingguan pertama di bulan Juli. Koreksi tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar atas perlambatan permintaan serta ketegangan geopolitik yang kembali mengemuka.
Saat ini, fokus utama pelaku pasar tertuju pada pertemuan para diplomat Uni Eropa yang dijadwalkan berlangsung minggu ini. Mereka akan merumuskan langkah strategis jika negosiasi dagang dengan Presiden Donald Trump gagal mencapai kesepakatan, menjelang tenggat tarif baru pada 1 Agustus.
Sanksi Energi Rusia Kembali Diperketat
Selain negosiasi tarif, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi suplai. Uni Eropa akhir pekan lalu menyepakati kebijakan baru untuk menurunkan batas harga minyak mentah Rusia, sebagai bagian dari paket sanksi lanjutan terhadap Moskow atas konflik yang masih berlanjut di Ukraina.
Meskipun kebijakan ini bertujuan menekan pendapatan energi Rusia, dampaknya terhadap pasar global masih terbatas karena permintaan minyak melemah di sejumlah ekonomi utama akibat tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.
Arah Harga Minyak Ditentukan Dua Faktor Kunci
Menurut analis pasar, harga minyak dalam jangka pendek akan banyak ditentukan oleh dua faktor:
- Hasil negosiasi tarif antara AS dan Uni Eropa. Jika pembicaraan menemui jalan buntu, potensi penerapan tarif baru bisa menekan pertumbuhan global dan memicu turunnya permintaan energi.
- Efektivitas pembatasan ekspor energi Rusia, yang bisa memicu ketatnya pasokan jika respons pasar lebih kuat dari yang diperkirakan.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















