
Cikarang, CMI News – Harga minyak dunia ditutup menguat, menyusul ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan laporan penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih besar dari perkiraan.
Kinerja Harga Minyak
Minyak mentah Brent naik US$0,83 atau 1,2% ke level US$67,67 per barel, yang merupakan posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,81 atau 1,3% menjadi US$63,52 per barel. Kenaikan ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya yang juga ditutup hijau.
Geopolitik Jadi Pemicu Utama
Pasar sempat berharap adanya titik terang dari negosiasi damai Rusia–Ukraina. Namun, upaya diplomasi kembali terhenti setelah kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan pembicaraan.

Rusia meningkatkan intensitas serangan udara, termasuk di wilayah perbatasan dekat Uni Eropa, sementara Ukraina mengklaim berhasil menyerang fasilitas kilang minyak Rusia. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor bahwa konflik bisa semakin melebar.
Menurut analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, kebuntuan ini berpotensi memunculkan kembali sanksi tambahan terhadap Rusia, yang otomatis bisa memperketat suplai minyak global.
Stok Minyak AS Menyusut Tajam
Dari sisi fundamental, sentimen positif datang dari laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) yang mencatat penurunan stok minyak mentah sebesar 6 juta barel dalam sepekan hingga 15 Agustus. Angka ini jauh di bawah perkiraan pasar yang hanya sekitar 1,8 juta barel.
“Data ini menunjukkan pasar domestik AS lebih ketat dari perkiraan, sehingga menantang proyeksi surplus pasokan yang sebelumnya dikeluarkan oleh IEA dan EIA,” kata Alex Hodes, analis StoneX.
Faktor Makro: Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Selain geopolitik dan data stok, investor kini menunggu hasil simposium ekonomi Jackson Hole di Wyoming. Pidato Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pada Jumat (22/8) akan menjadi sorotan karena bisa memberi arah terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September.
Kebijakan moneter The Fed akan berdampak besar pada nilai dolar AS. Dolar yang lebih lemah biasanya mendorong harga komoditas, termasuk minyak, karena menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.







