Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
BeritaPemalang

Tradisi Baritan Asemdoyong 2026: Wujud Syukur Nelayan dan Warisan Budaya Pemalang

×

Tradisi Baritan Asemdoyong 2026: Wujud Syukur Nelayan dan Warisan Budaya Pemalang

Sebarkan artikel ini

PEMALANG — Riuh rendah suara mesin kapal berpadu dengan kepulan asap tipis di sepanjang alur sungai Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Hari itu, Rabu (17/06/2026), ribuan mata tertuju pada ornamen warna-warni yang menghiasi puluhan kapal nelayan. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, KUD Mina “Misoyo Makmur” bersama masyarakat setempat kembali menggelar ritual tahunan yang sarat akan makna: Tradisi Baritan ke-68.

Bagi masyarakat pesisir Pemalang, Baritan atau sedekah laut bukan sekadar agenda seremonial di kalender tahunan. Ia adalah jembatan spiritual, refleksi sejarah, sekaligus ruang komunal tempat rasa syukur dilarungkan bersama ombak Laut Jawa.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Memasuki usianya yang ke-68, Tradisi Baritan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Asemdoyong ini membuktikan dirinya sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang paling resilien di Pemalang. Di tengah gempuran modernisasi alat tangkap dan digitalisasi, para nelayan lokal memilih setia merawat tradisi yang diwariskan sejak dekade 1950-an ini.

Acara tahun ini terasa kian istimewa dengan kehadiran para petinggi daerah. Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, hadir langsung didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Pemalang Noor Faizah Maenofie, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta jajaran Forkopimca Taman.

Kehadiran jajaran pemerintahan ini menegaskan bahwa Baritan kini telah bertransformasi; tidak hanya milik masyarakat nelayan, tetapi juga aset kultural pariwisata daerah yang bernilai tinggi.

Ada stereotip yang kerap meleset di masyarakat awam mengenai ritual sedekah laut. Menanggapi hal tersebut, Bupati Anom Widiyantoro dalam sambutannya meluruskan esensi dari kebudayaan ini dengan sudut pandang yang visioner dan religius.





error: