Melkias Boma kepada media ini mengatakan bahwa, pendidikan adalah hak setiap manusia, tanpa memandang usia, latar belakang, atau kondisi sosial, oleh karena itu harus dimulai walau dilakukan tanpa honor, tanpa fasilitas layak, dan dalam keterbatasan sumber daya, menggunakan ruang seadanya dan alat tulis sederhana, namun yang terpenting adalah kemauan dan semangatnya tidak boleh surut.
“Saya percaya, jika satu orang mulai peduli, maka perubahan itu bisa terjadi, tujuan membuka sekolah ini saya hanya ingin melihat masyarakat saya bisa membaca dan menulis, itu bekal penting untuk masa depan mereka,” ujar Melkias dengan nada rendah hati.
Respons masyarakat pun sangat positif, banyak orang dewasa yang awalnya malu atau ragu, kini mulai datang rutin mengikuti Pelajaran, mereka belajar mengeja huruf, menulis nama sendiri, hingga membaca kalimat-kalimat sederhana. Proses yang mungkin tampak sederhana ini, bagi mereka adalah gerbang menuju dunia yang lebih luas.













