Di bawah kepemimpinan beliau, tradisi besar keraton, seperti upacara Tingalan Jumenengan Dalem dan Sekaten, terus dilestarikan dengan penuh keagungan, menjadikannya simbol tak tergoyahkan dari budaya Jawa di tengah arus modernisasi.
Kepergian PB XIII diyakini akan menjadi titik balik bagi Keraton Surakarta. Berdasarkan tradisi dan pengumuman sebelumnya, tahta selanjutnya kemungkinan akan dipegang oleh putra mahkota, KGPH Purbaya, yang telah dipersiapkan sebagai penerus dinasti Pakubuwono.
Ribuan pelayat yang memadati Imogiri menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran Raja PB XIII—bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai jangkar spiritual dan kultural bagi masyarakat Jawa.
Dengan dimakamkannya beliau di Pajimatan Imogiri, kini nama PB XIII telah bersanding abadi dengan para leluhurnya, mengukuhkan kembali garis silsilah Kerajaan Mataram Islam.











