Perjalanan ini diabadikan oleh 409 anak tangga batu, yang sejak abad ke-17 telah menjadi saksi perjalanan akhir para raja Mataram. Setiap anak tangga yang dilangkahi seolah mengisahkan perjalanan sejarah panjang keraton, dari era perpecahan hingga persatuan kembali di pusara.
“Prosesi ini berlangsung khidmat dan penuh penghormatan—menandai berakhirnya perjalanan seorang raja yang dikenal sebagai penjaga tradisi serta pemersatu keluarga besar keraton.”
AdvertisementScroll kebawah untuk lihat konten
Meskipun Kompleks Makam Imogiri adalah lokasi definitif, terdapat detail penting dalam penempatan jenazah PB XIII. Untuk sementara waktu, beliau dimakamkan di sisi makam ayahandanya, PB XII, di Kompleks Kedhaton PB X.
Keputusan ini diambil karena Kedhaton baru yang disiapkan khusus untuk raja yang mangkat (Kedhaton yang lebih tinggi dan termulia) masih dalam proses penyelesaian. Jenazah PB XIII akan dipindahkan ke lokasi definitifnya setelah pembangunan tempat peristirahatan khusus tersebut rampung. Hal ini sejalan dengan tradisi keraton yang mengharuskan persiapan tempat yang sempurna bagi Sang Raja.
Sri Susuhunan Paku Buwono XIII Hangabehi mangkat pada usia 77 tahun setelah bertahta sejak tahun 2004. Sepanjang masa kepemimpinannya, beliau dikenal sebagai figur yang teguh menjaga tradisi dan berperan penting sebagai pemersatu keluarga besar keraton Surakarta yang sempat didera konflik internal.











