Efisiensi produksi: Budaya creator kini makin banyak memilih “short form” karena biaya dan waktu produksi relatif lebih kecil, sehingga bisa lebih cepat adaptasi tren.
“Kalau di TikTok, cepat banget nyaut (penonton)… bisa 3 ribu, 5 ribu, 10 ribu… yang penting sudah ketemu niche-nya,” kata Romi.
YouTube: Masih Relevan, Tapi Formatnya Berubah
Meski demikian, bukan berarti YouTube ditinggalkan begitu saja. Sebagai contoh, YouTuber otomotif Fitra Eri menilai bahwa jenis konten tetap menentukan platform yang paling cocok:
“Kalau saya review mobil… ulasan komprehensif, bukan sekadar potongan 30 detik. Karena orang yang mau beli mobil, mereka ingin lengkap. Dan itu biasanya di YouTube.”
Dengan demikian, kreator otomotif, edukasi, dokumenter atau konten yang butuh elaborasi masih menemukan nilai dan penonton di YouTube. Hanya saja, audiens kini terbagi: dari yang dulu “90% di YouTube”, kini mungkin “YouTube 6 juta + Instagram 2 juta + TikTok 2 juta”.
Peran AI dalam Era Konten Baru













