Secara historis, AS sudah mengenakan tarif tinggi terhadap sebagian besar produk impor China, mulai dari 50% untuk baja dan aluminium, hingga 7,5% untuk barang konsumsi. Data Wells Fargo Economics dan Federal Reserve Bank of New York memperkirakan, tarif efektif rata-rata atas produk China saat ini telah mencapai 40% — dan akan melonjak drastis bila kebijakan baru ini benar-benar diterapkan.
Implikasi ke Pasar Asia
Ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu kembali menimbulkan efek domino ke pasar Asia. Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah, menuju dolar AS yang dianggap lebih aman.
Meski pelemahan rupiah masih tergolong moderat dibandingkan mata uang lain, potensi tekanan lanjutan masih terbuka, terutama bila sentimen global terus memburuk. Pelaku pasar kini menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi domestik.













