CMI News — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan serius. Kali ini, bukan hanya terhadap dolar AS atau mata uang utama Asia, melainkan juga terhadap rubel Rusia. Sepanjang 2025, rupiah tercatat melemah tajam hingga nyaris kehilangan separuh nilainya saat berhadapan dengan mata uang Negeri Beruang Merah tersebut.
Pada penutupan perdagangan Jumat (12/12/2025), rupiah berada di level Rp208,6 per rubel, melemah 0,49% dalam sehari. Namun pelemahan ini bukan fenomena sesaat. Jika ditarik sejak awal tahun, depresiasi rupiah terhadap rubel sudah mencapai sekitar 47%.
Sebagai perbandingan, pada awal 2025 rupiah masih berada di kisaran Rp141 per rubel. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, daya beli rupiah terhadap mata uang Rusia tergerus hampir setengahnya—menjadi salah satu pelemahan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan pada awal pekan ini, rupiah sempat menyentuh titik terlemah terhadap rubel sejak Januari 2023, menandai tekanan yang semakin berat di pasar valuta asing.
Defisit Dagang Jadi Beban Tambahan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah tak bisa dilepaskan dari kondisi perdagangan bilateral Indonesia dan Rusia. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Indonesia mencatat defisit dagang sebesar US$882 juta sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.












