“Kami mengapresiasi inisiatif para dosen dan mahasiswa UNJA. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan DBD di tingkat masyarakat. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan bisa diperluas ke lingkungan lain yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain meningkatkan kemampuan teknis, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, fasilitas kesehatan tingkat pertama, dan masyarakat. Keterlibatan akademisi memberikan nilai tambah berupa pembaruan ilmu, data berbasis riset, serta model pelatihan yang terstruktur. Sementara itu, kader dan puskesmas memberikan kontribusi berupa pengalaman lapangan dan pemahaman lokal yang menjadi fondasi utama dalam pencegahan DBD.
Melalui kegiatan ini, tim dosen UNJA berharap kader jumantik semakin percaya diri dalam menjalankan tugasnya sebagai garda terdepan pengendalian jentik. Selain itu, diharapkan pula implementasi PSN 3M Plus dapat berjalan konsisten di rumah-rumah warga, sehingga angka kasus DBD di wilayah Aur Duri dan sekitarnya dapat ditekan secara signifikan.
Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan mampu menghasilkan intervensi kesehatan masyarakat yang berdampak nyata. Dengan semangat pemberdayaan dan edukasi berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat, bebas jentik, dan aman dari ancaman DBD.













