Sabtu itu, 24 Mei pagi menyapa Pendopo dan Pelataran Natasangin Majalangu dengan lembutnya cahaya matahari yang menembus sela pepohonan. Angin membawa aroma tanah yang masih lembab, seolah ikut menyambut langkah-langkah kaki penuh semangat dari para pembina yang datang dari berbagai penjuru Watukumpul. Di tempat inilah, Karang Pamitran Pembina Golongan Penggalang 2025 digelar, menyatukan hati dan pikiran mereka dalam satu tujuan: membangun kepramukaan yang lebih hidup dan bermakna.
Bukan sekadar berkumpul, 35 orang pembina dan andalan ranting datang membawa harapan. Panitia yang terdiri dari unsur Pembinaan Anggota Dewasa dan Pembina Penggalang Kwartir Ranting Watukumpul telah mempersiapkan segalanya dengan sepenuh hati. Dari spanduk yang terpasang rapi, hingga lembaran-lembaran materi yang kelak menjadi bekal untuk gugusdepan mereka.
Hari itu, ilmu mengalir seperti sungai yang jernih. Ada pembahasan serius tentang pengelolaan gugusdepan yang disampaikan oleh narasumber dari Kwartir Cabang Pemalang. Ada pula strategi pencapaian SKU dan SKK yang tak hanya dipaparkan, tetapi juga diperdebatkan penuh semangat. Tawa dan tepuk tangan mewarnai simulasi upacara pindah golongan, sementara keheningan khidmat mengiringi pelatihan upacara latihan dan kenaikan tingkat. Semua terasa hidup, seolah semangat Baden Powell sendiri hadir di antara mereka.
Di tengah kegiatan, suara tegas namun bersahabat dari Kak Dedi Sulaiman, Ketua Kwartir Ranting Watukumpul, menggema. Ia membuka dan menutup acara dengan penuh wibawa, mengapresiasi semangat para peserta yang begitu menyala. Dalam sorot matanya, terpancar harapan besar untuk pramuka penggalang di tanah Watukumpul ini.
Sementara itu, di balik kesibukan panitia, Kak Sukamso – Ketua Panitia – menyimpan harap yang tak kalah dalam. Ia ingin kegiatan ini tak berhenti di sini, melainkan menjelma menjadi bara kecil yang menyalakan semangat di setiap gugusdepan. “Semoga Karang Pamitran ini menjadi langkah pertama dari perjalanan panjang yang membekas,” ucapnya lirih, namun penuh keyakinan.
Usai kegiatan, para peserta tak langsung pulang dengan tangan kosong. Mereka membawa Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang harus ditanam dan dirawat di tanah gugusdepan masing-masing: menyusun program kerja, merapikan administrasi, hingga mempersiapkan Lomba Tingkat I.
Malam pun tiba, namun obor semangat masih menyala di mata mereka. Karang Pamitran ini bukan sekadar kegiatan, tapi kisah – kisah tentang persaudaraan, tentang belajar dan berbagi, dan tentang keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama. Di Watukumpul, bara itu telah menyala.
Pewarta : Putu Pesa Nugraha













