“Tuhan Yesus adalah dokter sejati yang menyembuhkan manusia secara fisik, psikis, dan rohani,” katanya.
Namun, lanjutnya, setiap orang harus memiliki keberanian seperti orang kusta dalam Injil yang datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Menurut Uskup, salah satu sarana penyembuhan rohani yang sering dilupakan umat adalah Sakramen Tobat. Ia mengajak umat, khususnya kaum muda, untuk rajin menerima sakramen pengakuan dosa, baik setiap bulan maupun secara berkala.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya doa pribadi, doa bersama, devosi, rekoleksi, retret, membaca Kitab Suci, membaca buku-buku rohani, serta membangun budaya diskusi yang sehat agar bakat dan talenta dapat berkembang dengan baik.
Jadikan Jalan Keselamatan dan Perdamaian
Menutup homilinya, Uskup Bernardus mengajak seluruh peserta KYD untuk menjadi pembawa damai di tengah masyarakat.
Secara khusus ia mengingatkan agar hubungan antarkampung dan antarmasyarakat di wilayah Kamuu-Mapia selalu dibangun dalam semangat persaudaraan dan keselamatan.
“Jadikan jalan Moanemani–Ugapuga sebagai jalan keselamatan dan jalan sukacita. Jangan menjadikannya jalur konflik dan permusuhan,” pesannya.
Ia berharap melalui KYD 2026, para Orang Muda Katolik semakin mengenal jati dirinya, menemukan tujuan hidupnya, serta mampu mengembangkan seluruh potensi yang Tuhan anugerahkan demi kemajuan Gereja dan masyarakat.
Ketika pulang nanti, jangan biarkan noken kalian kosong. Isi dengan pengalaman, pengetahuan, iman, dan komitmen untuk menjadi orang Katolik yang berkualitas, yang memperjuangkan kedamaian dan keutuhan ciptaan,” pungkasnya.















