Namun, Presiden mengingatkan bahwa ancaman saat ini telah bertransformasi.
“Ancaman terhadap negara tidak lagi bersifat konvensional, melainkan berkembang dalam bentuk perang siber, radikalisme, hingga disrupsi teknologi dan informasi,” tegas Presiden dalam amanatnya.
Oleh karena itu, setiap warga negara dituntut memiliki ketangguhan dan disiplin tinggi untuk menghadapi rivalitas geopolitik serta derasnya arus hoaks yang dapat memecah belah bangsa.
Hal menarik dalam peringatan tahun ini adalah seruan Presiden untuk menunjukkan aksi nyata bela negara melalui kepedulian sosial. Seluruh elemen bangsa diajak bahu-membahu membantu saudara-saudara di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang sedang terdampak bencana alam. Ketiga wilayah tersebut memiliki nilai sejarah besar bagi kemerdekaan Indonesia, sehingga solidaritas kepada mereka merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah bangsa.













